Rabu, 17 Oktober 2012

Derita Jadi Bintang Porno, Wajib 'Tegang' Sampai Berjam-jam


(Foto: thinkstock)

Jakarta, Saat menonton film porno, mungkin yang Anda pikirkan adalah mudahnya menjadi pemain film biru yang dibayar untuk melakukan hubungan seksual. Namun kenyataannya tidaklah demikian, banyak penderitaan yang dirasakan oleh si pelaku film porno.

Psikolog Seksual Zoya Amirin, pernah melihat langsung bagaimana proses pembuatan video porno di Los Angeles. Menurutnya, tidak ada yang nikmat dalam industri film porno.

"Miris kita melihat bagaimana sang bintang baik pria maupun wanita harus melakukan adegan seksual yang dipaksa. Pria harus dipaksa alat kelaminnya 'berdiri' dengan cara disuntik dan wanita harus mengulang adegan penetrasi dan oral sex dengan menahan sakit," ujar Zoya Amirin kepada detikHealth, seperti ditulis Rabu (17/10/2012).

Dalam industri film porno, hubungan seksual digambarkan secara berlebihan. Si pria dituntut harus memiliki ukuran kelamin di atas rata-rata dan mampu bertahan lama di atas ranjang. Hal ini akhirnya dianggap sebagai patokan mutlak oleh penikmat film biru. Para lelaki merasa minder bila ukuran kelaminnya lebih kecil atau tak bisa bertahan lama saat bercinta.

Padahal untuk mendapatkan semua hal itu, ada berbagai dopping tak sehat yang digunakan pemain film porno, seperti menyuntik alat kelamin atau minum berbagai obat-obatan yang dapat merangsang ereksi.

Perlakuan lebih kejam lagi diterima oleh pelaku wanita. Zoya bahkan menyebut industri film porno merupakan salah satu bentuk kekerasan pada wanita.

"Bayangkan saja, untuk industri film porno wanita harus bercinta dengan gaya berlebihan. Oral seks dipaksa, penetrasi sekaligus secara anal (melalui dubur), oral dan vaginal. Ada juga yang sambil dicekik atau dimasukan ke dalam toilet. Itu kan sangat menyiksa, mana ada wanita yang mau diperlakukan begitu," ungkap Zoya yang sangat menentang pornografi.

Tak hanya itu, para pemain baik pria maupun wanita, terutama pada industri film porno dengan anggaran yang besar, kadang diharuskan melakukan hubungan seks selama 2 jam non stop. Kondisi ini membuatnya harus melakukan hubungan seks secara maraton.

Ini tentu saja membutuhkan energi yang tidak sedikit, jika tidak diimbangi dengan asupan energi yang cukup dan kondisi fisik yang bagus maka bisa memicu kelelahan dan berdampak buruk bagi kesehatannya.

Belum lagi risiko tertular penyakit menular seksual. Sebagian besar perusahaan produksi video seks tidak menganggap kondom sebagai alat penting, karena secara teori itu bisa membunuh fantasi seks, sehingga kondom sangat jarang digunakan dan hanya pada adegan seks tertentu saja.

"Video porno itu membuat hubungan seksual tampak sangat berlebihan. Akhirnya itu meracuni penontonnya. Pria mungkin akan memaksa pasangannya untuk beradegan layaknya aktor dan aktris dalam video porno, yang tentu akan sangat menyiksa. Kadang ada yang merasa tidak puas bila tidak sama seperti di video. Padahal adegan seks dalam video porno tidaklah menyenangkan, dibuat-buat dan sangat berlebihan," tegas Zoya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar