Kamis, 20 September 2012

Takdir Kematian, Menjadi Muslimah, dan Kebanggaan Berjilbab




Nama saya Maria. Saya memeluk Islam setahun yang lalu, 2011. Saya berasal dari Boulder, Colorado. Saya lahir di sini dan bersekolah di sini.

Kedua ibu bapak saya sebenarnya berasal dari Afrika Selatan. Mereka berimigrasi ke sini. Mereka berdua tidak menganut sembarang agama. Mereka tidak mempercayai adanya Tuhan.
 
Saya punya seorang saudara laki-laki. Dia sedang belajar musik di Universitas Colorado. Dia menganut Katolik. Sebelum saya memeluk agama Islam, saya tidak mempercayai akan keberadaan Tuhan.

Saya tidak punya keyakinan apapun. Saya besar seperti apa yang diajarkan oleh kedua orang tua saya. Maka saya tidak punya pegangan apapun. Saya tidak percaya dengan agama mana pun.
 
Seandainya kami berbincang mengenai agama, kami mungkin mengatakannya dari sudut negatif. Sebelumnya, saya tidak melihat agama sebagai sesuatu yang baik. Saya pikir agama adalah sesuatu yang mewujudkan problema, seperti perang dan sebagainya. Saya melihatnya secara negatif.
 
►►►
 
Menemui Islam
Saya rasa saya mengetahui Islam kira-kira 2 atau 3 tahun yang lalu. Saya berpacaran dengan seorang pria dari Pakistan. Itulah pertama kali saya membuka diri untuk Islam. Saya menjadi terbuka untuk mempelajarinya dan tidak berpikir secara negatif berkaitan dengannya. 
 
Sebenarnya saya tidak mengetahui apa-apa mengenai Islam. Selepas berbincang dengannya dan beberapa orang lain, saya mula mengumpulkan fakta. Saya membeli sebuah Quran berbahasa Inggris dan mulai membacanya.
 
Ketika saya bertemu dengan tunangan saya, kami tidak banyak berbincang mengenai agama. Saya tidak berpikir bahwa dia adalah seorang muslim, atau seorang yang religius. 
 
Saya hanya berpikir bahwa dia adalah seorang yang baik dan penyayang. Dia merupakan salah seorang terbaik yang pernah saya temui selama ini.
Dia memiliki karakter yang baik. 
 
Dia begitu baik dengan semua orang. Dia tidak pernah menunjukkan sikap buruk malah kepada orang yang tidak disenangi sekalipun. Dia akan berbuat baik terhadap mereka. Dia tidak pernah melihat anda berhadap-hadapan dan bersikap buruk pada anda.
 
Ketika saya mengingatinya, saya tidak pernah berpikir bahwa segala kebaikan tersebut datang karena dia adalah seorang Muslim. Saya hanya berpikir bahwa dia adalah seorang yang baik. 
 
Semakin saya berpikir mengenainya semakin sadar bahwa segala sikap baik itu sebenarnya datang dari Islam. Mungkin karena dia seorang Muslim, dia menjadi seorang yang baik hati dan terbuka.
 
Alasan mengapa saya memilih Islam ialah ketika saya merasakan bahwa Islam merupakan satu perkara yang benar buat saya karena saya bertunangan dengan seorang dari Pakistan. Dia adalah tunangan saya dan pada ketika itu saya bersekolah di Arizona, dia datang mengunjungi saya. 
 
Dia menyupir mobil dari Boulder ke Arizona untuk bertemu saya, dan akhirnya dia menemui kematian dalam tabrakan di jalan. Inilah merupakan pengalaman pertama saya menghadapi kematian. 
 
Ia merupakan inspirasi untuk saya mendalami Islam karena saya tahu bahwa ada sesuatu yang lebih baik untuknya dari sekadar kematian. Dia tidak hanya mati, mesti ada sesuatu sebab di baliknya, ada sesuatu yang lebih besar yang menguasai alam ini.
 
►►►
 
Dampak al-Quran
Saya membaca quran dan banyak buku, serta berbincang dengan banyak orang. Saya teringat satu ketika saya membaca Quran, lebih kurang dua bulan selepas kematiannya. 
 
Saya membaca Quran, dan segalanya menjadi nyata bagi saya. Satu momen dimana semuanya masuk akal, semua yang saya baca dan saya tahu mengenai dirinya serta semua berkaitan hal ini. Saya sampai satu titik bahwa saya mengetahui bahwa semuanya benar.
 
Saya kira itulah pertama kali saya mengucapkan syahadah sendirian. Itulah pertama kali saya sendiri. Kemudian baru saya berbincang dengan beberapa orang teman Muslim, mereka menasihati saya untuk ke Denver. 
 


Saya bisa bertemu dengan seorang Syeikh di Denver yang perlu saya temui dan bercakap dengannya. Saya bertemu dengannya, dia memastikan bahwa saya memang berhasrat untuk memeluk agama Islam. 
 
Bahwa saya tidak melakukannya untuk seseorang, bukan untuk tunangan saya. Kami berbincang lama dan saya memberitahu kepadanya "Ya, saya melakukan ini untuk diri saya sendiri". Saya mengucapkan syahadah di hadapannya dan dua lagi teman saya sebagai saksi.
 
Saya tidak banyak berbicara mengenai perkara ini dengan kedua orang tua saya karena saya tahu mereka tidak menaruh minat terhadap agama. Untuk pertama kali saya begitu bersungguh-sungguh dan pada bulan Ramadhan tahun lalu, saya berpuasa penuh sebulan. 
 
Ini merupakan Ramadhan pertama buat saya, memang benar-benar sulit. Tetapi saya berhasil melakukannya dan mereka kemudian menyadari kesungguhan saya "Oh, dia benar-benar serius". 
 
Seperti satu yang menakjubkan, mereka akan berkata "Wow, dia benar-benar tidak makan sepanjang hari". Saya pikir itulah pertama kali mereka menyadari bahwa saya benar-benar serius. Kami sebenarnya tidak banyak bercakap berkaitan hal ini. Tetapi akhirnya mereka menerima pilihan saya.
 
Saya kira, seandai saya tidak bertemu dengan tunangan saya, saya mungkin tidak banyak belajar tentang Islam seperti sekarang, dan mungkin saya tidak akan mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam. 
 
Melihat kebelakang terhadap apa yang berlaku, saya akan tetap memeluk agama Islam setelah mempelajarinya. Mungkin saya, ia akan mengambil waktu yang lebih lama tetapi kematiannyalah yang membuat segala-galanya menjadi jelas karena saya tidak pernah mengalami pengalaman pahit seperti itu.
 
Sebelum saya memeluk agama Islam, saya menjalani hidup dengan berfoya-foya. Saya benar-benar berbeda. Selepas memeluk Islam, terasa seperti saya lahir kembali, saya meninggalkan semua perbuatan buruk. Apa yang saya lakukan di masa lalu sebelum saya memeluk agama Islam, bukanlah mudah untuk dihapuskan tetapi ianya telah kehilangan nilai.
 
►►►
 
Keluarga dan Sahabat
Selepas menjadi seorang Muslim, saya memilih teman lain dari apa yang saya miliki dulu. Mayoritas teman saya adalah Muslim. Kami akan ke luar bersama, dan pada malam Jumat kami akan keluar menonton di bioskop, atau pergi bermain. Saya kira adalah penting dengan siapa kita berteman. Rekan-rekan saya banyak membantu  untuk membuat perubahan.
 
Buat masa ini saya belum berpikir mengenai pernikahan. Saya akan bertemu dengan orang yang benar, maka tak perlu merasa bimbang. Sudah tentu saya akan menikah dengan seorang Muslim. Saya tidak ingin bertemu atau berpacar dengan non Muslim.
 
Ibu bapak saya lebih menyenangi perilaku saya sesudah saya memeluk agama Islam. Mereka tidak perlu bimbang dengan saya. Apakah saya akan selamat atau perkara-perkara seperti itu. Mereka yakin bahwa saya tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh, maka mereka sebenarnya merasa lega sesudah saya menjadi Muslim.
 
Ketika pertama kali memakai jilbab, memang sulit. Saat berada di dalam kelas, saya merasakan semua orang memperhatikan saya. Sebenarnya ada muslimah lain yang mengenakan jilbab. 
 
Tetapi memandangkan saya satu-satunya orang Amerika yang mengenakan jilbab…..tetapi sebenarnya saya merasa bangga. Saya merasa amat menyenangkan. Saya merasakan jilbab telah menjadi bagian dari saya. Saya merasa senang dengan diri saya karena mengenakan jilbab.
 
Saya tidak fikir ibu bapak saya merasa malu ketika kami ke luar bersama. Saya pikir mereka juga bangga karena saya memakai jilbab. Mereka mungkin saya berpikir bahwa dengan mengenakan jilbab, anda juga bisa menjadi seorang yang bijak, dan anda masih tetap menjadi diri anda. 
 
Anda bebas dan anda bisa berpikir sendiri. Hanya karena anda mengenakan jilbab tidak bermakna anda punya sesuatu negatif pada diri anda. Mereka sebenarnya lebih menghormati anda karena anda mengenakan jilbab. (IRIB/onislam.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar