Kamis, 20 September 2012

Ini Dia Rahasia Berhenti Makan Sebelum Kenyang




Agama Islam tidak melarang mengkonsumsi makanan dan minuman yang lezat sepanjang halal dan baik. Namun lebih dari itu, Islam memandang kelezatan bukan tujuan. Sebab, jika tujuan manusia meraih kelezatan, maka apa bedanya dengan makhluk hidup lainnya? terkait hal ini, Imam Ali berkata, "Jangan jadikan hidup untuk makan, tapi jadikanlah makan untuk hidup."
 
Ahlul Bait Rasulullah menekankan urgensi tidak makan berlebihan untuk kebaikan manusia sendiri. Imam Shadiq mengungkapkan pandangan positif makan cukup dari tinjauan lahir dan batin. Contohnya, memiliki postur yang seimbang merupakan salah satu manfaat makan cukup.

Para psikolog berkeyakinan bahwa orang yang kebanyakan makan dan minum memiliki bentuk fisik yang tidak seimbang, hingga seringkali menyebabkan kurang percaya diri.
 
Pakar medis menilai penuaan dini salah satunya disebabkan oleh pola konsumsi yang berlebihan yang berujung pada obesitas. Mereka menilai orang yang berlebihan dalam makan dan minum berusia lebih pendek karena saluran pencernaannya dipergunakan melebihi kapasitas sebenarnya.

Terkait hal ini, Rasulullah bersabda, "Tidak ada wadah yang paling buruk yang dipenuhi oleh keturunan Adam selain perut, padahal untuk kelanjutan hidupnya hanya butuh beberapa suap saja."
 
Seorang dokter Mesir, sekitar 3600 tahun lalu pernah berseloroh, "Manusia rakus hidup dengan seperempat makanan yang dikonsumsinya, dan tiga perempat lainnya menjadi jatah dokter untuk mencari nafkah!"
 
Mengenai keutamaan tidak makan berlebihan, Rasulullah mengungkapkan cerita menarik dari Nabi Isa:
 
"Suatu hari saudaraku Isa berjalan melewati sebuah kota. Ketika itu beliau melihat lelaki dan perempuan yang saling memaki. Lalu Isa mendekati keduanya dan bertanya, Apa yang menimpa kalian? lelaki itu menjawab, Wahai Nabi Allah, ia adalah istriku dan aku tidak memiliki masalah dengan dirinya. Ia adalah perempuan baik, tapi aku ingin berpisah dengannya.
 
Sambil terheran, Nabi Isa menanyakan masalah utama yang menimpa pasangan itu. Ia menjawab: Istriku sudah tua dan wajahnya sudah tidak berseri-seri. Nabi Isa mendekati wanita yang sedangbersedih itu, seraya berkata, Apakah anda menginginkan wajah yang segar dan berseri-seri?

Sambil terkaget-kaget, wanita itu menjawab, Ya wahai nabi Allah. Kemudian, Nabi Isa berkata, "Segeralah berhenti saat makan sebelum kenyang. Sebab, jika lambung penuh terisi makanan melebihi kapasitasnya, maka wajahmu tidak akan berseri-seri."
 
Setelah mendengar petuah dari Nabi Isa itu, wanita tersebut menjalankannya. Kemudian, beberapa waktu berjalan wajahnya berseri-seri. Berhenti makan sebelum kenyang juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Dengan demikian, Islam memberikan sejumlah petunjuk yang logis mengenai kesehatan fisik dan mental manusia.
 
Imam Ali berkata,"Orang yang sedikit makan, pikirannya lebih bersih." Petuah singkat ini memuat berbagai kebijaksanaan yang menjulang. Ketika lapar, afeksi manusia lebih halus dan kesadarannya semakin meningkat. Salah satu faktor yang menjegal pertumbuhan pemikiran adalah kebanyakan makan dan minum. Kini petuah Imam Ali itu terbukti secara ilmiah.
 
Pakar medis berkeyakinan bahwa konsumsi melebih kapasitas lambung akan menyebabkan meningkatnya tingkat keasaman lambung. Dampaknya, darah semakin deras mengalir di saluran pencernaan yang menyebabkan aliran darah ke otak semakin sedikit.

Padahal otak lebih membutuhkan darah yang mengandung oksigen dan bahan makanan melebihi anggota badan lainnya. Dengan demikian, kebanyakan makan menyebabkan berkurangnya aktivitas aktif otak yang menyebabkan berkurangnya menurunnya kemampuan berpikir.
 
Selain itu, berbagai riwayat menjelaskan dampak mental dan moral kebanyakan makan. Redupnya hati, meningkatnya kecenderungan seksual, hilangnya ketakwaan dan arogan merupakan deretan akibat buruk dari kebanyakan makan. Sebaliknya, Rasulullah menjelaskan sejumlah keutamaan sedikit makan seperti badan yang sehat dan hati yang terang.
 
Salah satu kewajiban dalam Islam adalah berpuasa. Mengenai manfaat medis berpuasa, Rasulullah bersabda, "Berpuasalah, maka kalian akan sehat." Hadis Rasulullah ini menginspirasi banyak pakar medis mengenai manfaat puasa bagi kesehatan.

Pakar medis Iran, Akbar Ejraee mengungkapkan, "Sejumlah pakar kesehatan non-Muslim menemukan fakta bahwa menghindari konsumsi berlebihan dalam makan dan minum merupakan metode  pengobatan terbaik bagi sejumlah penyakit.
 
Pakar kesehatan Iran ini menilai ganguan saluran pencernaan, tekanan darah tinggi, peningkatan gula dan kolesterol darah merupakan sejumlah penyakit yang bisa diatasi dan diminimalisasi dengan berpuasa. Berpuasa menyebabkan terjadinya pembakaran makanan yang berlebihan, sekaligus mencegah terjadinya kenaikan berat badan.

Menurut Ejraee, puasa yang dijalankan selama sebulan penuh memberikan kesempatan kepada badan untuk membersihkan lemak berbahaya dan racun tubuh yang merusak kesehatan badan mansuai.
 
Terkait hal ini, seorang dokter Austria mengungkapkan, dalam pengobatan penyakit, mungkin saja manfaat lapar lebih baik dari pada obat." Senada dengan itu, dokter Helba menganjurkan kepada pasiennya untuk menghindari makan dan minum selama beberapa hari, kemudian memberikan makanan tertentu kepada mereka.
 
Dokter Ejraee menilai lapar bisa efektif untuk mengobati sejumlah penyakit. Sebab untuk menahan lapar, badan mengkonsumsi bahan makanan cadangan yng tersimpan di dalam tubuh. Ketika asupan bahan makanan dari luar berkurang, maka secara otomatis rezim makanan akan memimpin tubuh.

Dengan demikian, hidup dimulai dengan mengkonsumsi makanannya sendiri. Pada tahap pertama yang dikonsumsi adalah cadangan gula dan kolesterol, kemudian bagian yang tidak terpakai.
 
Metode pengobatan dengan puasa ini dimulai dengan menggantikan sel-sel yang sakit dan rusak dengan sel-sel baru. Dengan demikian, sejumlah pakar medis bersimpulan bahwa puasa bisa mencegah penuaan dini dan mengembalikan peremajaan sel-sel tubuh.
 
Selain manfaat fisik, puasa juga memiliki khasiat mental dan moral bagi manusia. Para tokoh agama menilai puasa bisa meningkatkan keutamaan moral seseorang mencapai puncak spiritual.
 
Meski pengetahuan manusia yang terbatas masih belum mampu menemukan seluruh rahasia puasa, namun setiap ajaran memiliki tujuan bernilainya masing-masing. Dengan berjalannya waktu dan berkembangnya sains, manusia terus-menerus mencari dan menemukan hakikat dari ajaran langit itu. (IRIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar