Minggu, 28 Oktober 2012

Penguasaan Bahasa Indonesia Guru Masih Rendah


 
KOMPAS.com - Penguasaan bahasa Indonesia oleh guru SMA/SMK di Jawa Barat rata-rata masih di kategori tingkat menengah. Artinya, guru bisa menerangkan atau berinteraksi dengan baik meski bakal menemui kesulitan dalam membaca atau mendengarkan tema keilmuan yang spesifik.

Kesimpulan itu berdasarkan hasil uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI) yang diikuti 6.000 guru SMA dan SMK di Jabar dalam dua tahun terakhir. Hasil UKBI adalah lima tingkatan kemampuan, yakni terbatas, marjinal, semenjana, madya, unggul, sangat unggul, dan istimewa.

”Secara rata-rata, hasil dari UKBI guru menunjukkan tingkatan sedikit di atas madya,” ujar Kepala Balai Bahasa Jabar Abdul Khak di Bandung, Minggu (28/10). (ELD)
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Caroline Damanik

Mana teks sumpah pemuda yang asli?


Mana teks sumpah pemuda yang asli?

"Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia."

Inilah isi Sumpah Pemuda yang kini banyak dipahami masyarakat Indonesia. Tiga kalimat ini dihapal dan dibaca setiap tanggal 28 Oktober untuk menghormati kesepakatan sakral yang dilakukan para pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928. Tapi sebenarnya bukan ini teks asli yang diikrarkan para pemuda kala itu. Ada perubahan naskah sumpah pemuda yang dilakukan untuk tujuan politis.

Dalam Kerapatan Pemoeda-pemoeda Indonesia di gedung Indonesische Clubgebouw, organisasi kepemudaan seluruh Indonesia berkumpul. Mereka menggelar 'kerapatan', istilah masa itu untuk kongres. Tahun 1926 mereka sudah berkongres untuk pertama kalinya, jadi kongres ini sering disebut Kongres Pemuda II.

Kongres dimulai tanggal 27 Oktober, berlanjut tanggal 28 Oktober. Duduk sebagai Ketua adalah Soegondo Djojopoespito dari PPPI, Djoko Marsaid dari Jong Java sebagai wakil ketua. Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond sebagai sekretaris dan Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond menjabat bendahara. Acara ini dihadiri sekitar 82 peserta dari berbagai organisasi.

Di akhir kongres mereka mengumumkan tiga hal. Inilah tiga ikrar itu dalam ejaan lama bahasa Melayu Hindia Belanda.

Pertama.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihatlah poin ketiga, bunyi kalimat itu adalah mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Bukan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Kenapa kata menjunjung yang digunakan, bukan berbahasa satu, bahasa Indonesia?

Justru masalah menyatukan bahasa ini yang paling jadi masalah. Persoalan satu tanah air tak jadi masalah, begitu juga satu bangsa, tak jadi masalah. Mereka merasa satu. Hanya bagaimana soal bahasa?

Di kalangan rakyat jelata, bahasa Melayu pasaran sudah banyak digunakan. Tapi di kalangan cendekiawan dan orang terpelajar, jarang sekali. Mereka terbiasa berbahasa Belanda dan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

"Kebanyakan para tokoh pemuda itu berpendidikan Belanda. Mereka justru lebih terbiasa bercakap dalam bahasa Belanda daripada Melayu," kata sejarawan JJ Rizal saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (28/10).

Keith Foulcher, dalam buku Sumpah Pemuda, Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan yang diterbitkan Komunitas Bambu, mencoba menganalisa hal ini. Saat itu peserta Kongres yang berasal dari Jawa, Sunda dan suku lain, seperti menolak meninggalkan bahasa daerah mereka untuk bahasa Melayu.

Sementara itu, Muhammad Yamin yang telah berkampanye menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di seluruh Sumatera.

Maka sebagai jalan tengah, maka kalimat yang disepakati adalah menjunjung bahasa persatuan. Menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tanpa meninggalkan bahasa ibu mereka.

Lalu siapa yang mengganti naskah Sumpah Pemuda seperti saat ini?

"Muhammad Yamin dan Soekarno yang mengubah teks itu tahun 1950an. Itu rekayasa politik Soekarno dan Yamin," kata JJ Rizal.

Yamin saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Pendidikan Soekarno merasa butuh mengubah teks sumpah pemuda untuk kepentingan politiknya. Saat itu Indonesia yang masih muda menghadapi separatis di mana-mana. Maka Soekarno melihat sumpah pemuda sebagai sebuah kekuatan yang dia bisa gunakan untuk mengikat.

"Karena keperluan itu, Soekarno mengubah teks. Dia berusaha menguatkan identitas persatuan. Maka kalimat menjunjung diganti menjadi satu bahasa Indonesia. Kalimat itu yang digunakan sampai sekarang."

"Sebenarnya sejak tahun 1930an dan kongres bahasa itu sudah ada satu bahasa, bahasa Indonesia. Tetapi hanya dari seminar ke seminar. Soekarno yang pertama merealisasikannya," tutup Rizal.
[ian]

Makan 9 Kali Sehari Dapat Turunkan Kadar Kolesterol


Makan 9 Kali Sehari Dapat Turunkan Kadar Kolesterol
Foto: Thinkstock
Jakarta - Umumnya jadwal makan yang dianjurkan adalah tiga kali sehari. Sebuah penelitian menemukan bahwa makan sembilan kali sehari dapat memangkas kolesterol. Namun porsi makan yang dianjurkan lebih sedikit agar tak terjadi penimbunan lemak.

Dalam sebuah studi terbaru, para ilmuan dari Imperial College, London, Inggris, melibatkan 2.000 responden yang diamati pola makannya. Responden yang terlibat berasal dari Inggris, Jepang, Cina, dan Amerika Serikat. Sebagian dari mereka memiliki pola makan lebih sedikit atau kurang dari enam kali sehari. Setengahnya lagi memiliki kebiasaan makan lebih dari enam kali.

Hasilnya ditemukan, responden yang pola makannya lebih sedikit diketahui memiliki tekanan darah lebih tinggi. Sedangkan responden yang pola makannya lebih banyak cenderung memiliki tekanan darah normal.

Karena itulah para peneliti menganjurkan untuk menerapkan pola makan sembilan kali sehari dalam porsi yang kecil. Seperti yang dilaporkan Daily Mail, pola makan ini juga dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol bahkan juga bisa membantu menurunkan berat badan.

Sayangnya, penelitian lain dari University of Athens juga dilakukan. Dengan melibatkan lebih dari 2.000 anak berusia 9-13 tahun, riset ini mendapatkan hasil sebaliknya dari penelitian sebelumnya. Responden yang makan lima kali sehari cenderung mengalami peningkatan kolesterol sebanyak 32,6 persen.

Meskipun begitu, Dr. Susan Jebb, dari MRC Human Nutrition Research, Cambridge, Inggris, menyarankan untuk tetap mengontrol asupan kalori jika ingin makan sebanyak enam kali atau sembilan kali sehari.

(fit/odi)


Batas Usia Pensiun PNS Tetap 56 Tahun



 
JAKARTA - Masyarakat harus mewaspadai penipuan yang berkedok informasi jika rancanan undang-undang (RUU) tentang aparatur sipil negara (ASN) sudah disahkan DPR. Melalui informasi sesat ini, penipu menginformasikan jika batas usia pensiun (BUP) PNS sudah dinaikkan dari 56 tahun ke 58 tahun.

Informasi munculnya informasi sesat melalui SMS gelap tersebut, santer diterima Badan Kepegawaian Negara (BKN). Selain itu, sejumlah PNS di sejumlah daerah juga menerima kabar ini. "Informasi dalam SMS gelap itu tidak benar. Sampai sekarang RUU ASN masih belum disahkan," tegas Kepala Biro Humas dan Protokol BKN Aris Windiyanto, Minggu (28/10).

Kabar dari SMS gelap ini lumayan banyak. Selain urusan BUP PNS yang naik menjadi 58 tahun, juga soal pemberian tunjangan pensiun. Diantaranya menyebutkan jika uang pesangon bagi pensiunan PNS golongan 2 adalah Rp 500 juta. Selanjutnya untuk golongan 3 senilai Rp 1 M dan golongan 4 sejumlah Rp 1,5 M.

Ada sejumlah motif kejahatan di balik beredarnya SMS gelap ini. Diantaranya adalah meminta imbalan kepada sejumlah PNS yang akan pensiun untuk pengurusan perpanjangan masa pensiun menjadi 58 tahun sesuai dengan RUU ASN yang disebut sudah disahkan.

"Ini saya tegaskan tidak benar. Sudah kami klarifikasi melalui website BKN," ujar Aris.

Dia mengatakan jika seluruh aturan tentang PNS masih berjalan seperti semula. Belum terpengaruh dengan butir-butir RUU ASN. Karena memang RUU yang pembahasannya lumayan alot ini memang belum disahkan.

Perkembangan terakhir pembahasan RUU ASN ini adalah draf dibahas lagi di internal pemerintah. Dikabarkan jika sejumlah kementerian kembali mengebut penyelarasan RUU ASN pada Kamis (25/6) lalu. Di antaranya pihak yang terlibat adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Di internal pemerintah sendiri, masih terjadi tarik ulur sejumlah pasar di dalam RUU ASN.

Untuk catatan, dalan draft terbaru RUU ASN yang terdapat di DPR disebutkan bahwa nantinya jabatan ASN (PNS) nantinya terdiri dari jabatan administrasi, fungsional, dan eksekutif senior.

Nantinya BUP untuk ASN di posisi jabatan administrasi adalah 58 tahun. Sedangkan untuk BUP ASN di jabatan fungsional akan diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Sementara untuk BUP ASN di jabatan eksekutif senior adalah 60 tahun.

Jabatan administrasi sendiri terdiri dari pelaksana, pengawas, dan administrator. Sementera jabatan fungsional kehalian terdiri dari ahli pertama, ahli muda, ahli madya, dan ahli utama. Untuk jabatan fungsional keterampilan terdiri dari pemula, terampil, dan mahir.

Khusus untuk jabatan eksekutif senior adalah jabatan struktural tertinggi, staf ahli, analisis kebijakan, dan pejabat lainnya yang ditetapkan peraturan pemerintah. (wan)

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sapi Jambi Bakal Jadi Proyek Strategis Nasional






Gandeng Unja untuk Jadikan Labor Peternakan
JAMBI - Proyek Integrasi Sawit-Sapi di PTPN VI Jambi bakal akan dijadikan program nasional. Menurut Menteri BUMN RI Dahlan Iskan, dia akan mendorong lokasi proyek tersebut menjadi laboratorium peternakan terbesar untuk dikelola Universitas Jambi (Unja).
“Kalau bicara soal daging, kita seperti tak berdaya. Tahun lalu saja, kita harus impor 350 ribu sapi, belum daging. Nah, kita ingin, target swasembada daging yang dicanangkan presiden terealisasi. Dan, salah satu jalannya melalui proyek integrasi sawit-sapi ini,” jelas Dahlan saat meninjau lokasi proyek integrasi sawit-sapi di Desa Ness, Kamis (25/10) lalu.
Mantan CEO Jawa Pos (induk Jambi Independent) ini menjelaskan, masalah sapi patut diperhatikan secara serius. Itu mengingat kebutuhan akan daging selalu meningkat, sementara stok daging nasional terbatas. Akhirnya, tidak sedikit APBN terkuras untuk membeli sapi dan daging. “Coba kalau kita bisa produksi sendiri, berapa triliun APBN dapat kita selamatkan,” katanya.
“Kalau ini berhasil, maka Jambi jadi daerah pertama yang bakal mensuplai daging terbesar skala nasional,” imbuhnya. Menurut Dahlan, sudah menjadi tanggung jawabnya selaku orang nomor satu di BUMN untuk memikirkan masalah ini. Sebab, tidak mungkin juga Negara yang berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini bergantung dari APBN saja. Itu jelas tidak cukup. Indonesia butuh BUMN sebagai tangan lainnya. “BUMN harus jadi tangan kedua pemerintah,” tegasnya.
Dahlan mengatakan, sengaja memilih Jambi sebagai basis proyek integrasi ini. Selain wilayah yang mendukung, fasilitas serta suplai pakan ternak juga mencukupi. Ia juga bersyukur proyek yang telah dicanangkan delapan bulan lalu ini sudah menampakkan hasil. Meski masih banyak yang perlu dibenahi, utamanya masalah SDM pengelola.
“Saya nggak nyangka proyek ini bisa jalan. Sebelum ke sini, saya sempat mengusulkan agar PTPN VI belajar dari peternakan modern di Jawa Barat. Setelah saya lihat, ternyata peternakan di sini lebih modern dari Jawa Barat. Nanti, saya akan minta mereka belajar ke sini,” ujarnya.
Dahlan melanjutkan, tahun berikutnya akan mengembangkan proyek tersebut dalam tiga dimensi, yaitu integrasi Sawit-Sapi-Manusia. Konsepnya, integrasi tersebut akan melibatkan warga sangat miskin di sekitar perusahaan. “Nanti, satu rumah dapat bantuan satu sapi. Ini program untuk warga miskin. Kita sediakan kandang, nanti mereka sendiri yang pelihara sapinya. Tapi tidak boleh dibawa pulang. Sapi itu dipelihara secara komunal. Sehingga ini akan sangat membantu sekali bagi warga miskin,” bebernya.
Kepala PTPN VI Iskandar Sulaiman mengatakan, proyek tersebut telah berhasil. Saat ini pihaknya sudah bisa menjual 1.000 ekor sapi. Bahkan, untuk keperluan Idul Adha, sudah terjual 350 ekor sapi. “Ada dua ribu ekor dengan komposisi 70 persen sapi penggemukan, dan 30 persen sapi pengembangbiakan,” katanya.
Menurut dia, dalam program tersebut PTPN VI Jambi menginvestasikan anggaran senilai kurang lebih Rp 20 miliar. Rinciannya, Rp 8 miliar sebagai modal pembelian sapi, dan Rp 12 miliar untuk pembangunan sarana kandang dan lainnya. Program itu bertujuan untuk membantu pemerintah dalam upaya swasembada daging.
Khusus di Jambi, menurut dia, akan sangat membantu pemenuhan daging daerah. Di mana sebagian besar konsumsi daging di Jambi lebih banyak didatangkan dari luar daerah. Meski demikian, program itu bukan tanpa kendala. Salah satu masalah yang masih dipelajari oleh PTPN VI adalah soal teknis pemeliharaan.
Dari sisi harga jual juga tidak berbeda dengan sapi pada umumnya, yakni antara Rp 8 juta-Rp10 juta per ekor. “Tergantung berat dan jenis sapinya,” katanya.
Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA), yang ikut meninjau ke lokasi mengaku salut dan terima kasih atas gagasan Dahlan Iskan dalam integrasi Sawit-Sapi ini. Menurutnya, proyek ini sebagai salah satu upaya mendukung pencapaian swasembada ternak dan swasembada daging secara nasional, khususnya di Provinsi Jambi.
HBA mengungkapkan, saat ini Provinsi Jambi kekurangan 14.000 ekor sapi. “Terima kasih PTPN VI telah berkontribusi untuk mengurangi kekurangan tersebut melalui program integrasi sawit – sapi,” katanya.
Pantauan di lapangan, Dahlan Iskan dan rombongan berkunjung ke lokasi proyek integrasi sebelum matahari terbit sekitar pukul 05.00. Dalam peninjauan ini, Dahlan yang didampingi gubernur, wakil gubernur dan Bupati Zumi Zola, melihat langsung kondisi kandang, pengolahan pelepah sawit menjadi pakan sapi dengan menggunakan mesin, serta berbincang-bincang langsung dengan para tenaga kerja yang mengurus peternakan sapi tersebut.
Lokasi integrasi tersebut merupakan bekas pabrik karet yang sejak 2007, mati. Saat itu, lokasi ini akan dijadikan pabrik kompos dan ternak sapi.  Bahkan, Dahlan langsung mencoba sendiri dengan tangannya melumat pelepah sawit untuk dijadikan pakan. Prose pembuatan pakan ternak 60 persennya dari pelepah.
Selain daging, proyek integrasi sawit-sapi itu juga menghasilkan pupuk kompos dan pakan jenis pellet. Dahlan sempat heran melihat pengolahan pakan dalam bentuk pellet. “Seumur-umur, baru kali ini saya lihat pakan jenis pellet,” katanya.
Dia juga Heran ketika tahu bahwa kandang sapi tersebut tidak bau. Semua sudut lokasi tak luput dari pantauannya. Terakhir dia melihat lokasi karantina sapi yang sakit.
Salah satu arsitek proyek ini, Faisal menjelaskan, keunggulan program integrasi sawit-sapi terletak pada ketersediaan pakan yang memadai dari pemanfaatan pelepah kelapa sawit dengan komposisi 50% sampai 60% dari pakan sapi (ransum). “Kandang dan kotoran tidak berbau dan tidak ada lalat, karena komposisi pakan yang baik dan kotoran sapi dalam 12 minggu (dicampur serat ampas PKS) menjadi kompos bermutu tinggi yang dapat menghemat pupuk anorganik,” jelasnya.
Sementara Rektor Unja, yang turut hadir di lokasi mengatakan pihaknya bersedia bekerjasama dengan PTPN untuk menjadikan lokasi ini sebagai laboratorium peternakan. Apalagi, kata dia, selama ini Fakultas Peternakan Unja memang belum memilik labor peternakan yang mumpuni.
“Saya sangat setuju dengan ide Pak Dahlan. Mahasiswa kita akan didorong untuk magang di sini,” ujarnya.

Kisah Kedermawanan


Kisah Kedermawanan

Oleh: Moch Hisyam

Suatu ketika, dalam perjalanan dari Syam menuju Hijaz, Abdullah bin Abbas dan rombongan singgah di suatu tempat. Mereka kehabisan bekal.

"Pergilah ke dusun yang terdekat. Mudah-mudahan kau berjumpa dengan orang yang mempunyai susu atau makanan," kata Ibnu Abbas kepada seorang anggota rombongan.

Bersama beberapa pelayan, orang itu pun pergi. Di dusun terdekat, mereka berjumpa dengan seorang perempuan tua.

Mereka bertanya, "Apakah Anda mempunyai makanan yang dapat kami beli?" Perempuan itu menjawab bahwa dia tidak menjual makanan, tetapi dia mempunyai makanan (roti bakar) sekadar untuk keperluannya dan anak-anaknya.

Utusan Ibnu Abbas meminta sebagian dari roti bakar yang dimiliki keluarga perempuan itu. Tetapi, sang perempuan itu mengatakan, ia tidak akan memberikan roti bakar itu sebagian. "Kalau mau semuanya, ambillah," jawabnya. Ia menambahkan, "Memberi sebagian adalah suatu kekurangan sedangkan memberi semua itu adalah kesempurnaan dan keutamaan."

Singkat cerita, perempuan itu pun bertemu Ibnu Abbas dan mengatakan bahwa dia berasal dari kabilah Bani Kalb. Ibnu Abbas bertanya tentang kondisinya dan anak-anaknya. "Jika malam tiba, aku bertahan untuk tidak tidur. Aku melihat segalanya menyenangkan dan dunia ini tidak ada artinya, kecuali seperti yang saya peroleh."

Ibnu Abbas bertanya lagi. "Apa yang Anda simpan untuk anak-anakmu jika mereka datang nanti?" Perempuan itu menjawab, dia belajar dari pesan yang disampaikan oleh Hatim al-Thay’i. "Ada kalanya aku tidur kelaparan berkepanjangan sehingga aku dapatkan makanan-makanan yang baik-baik."

Ibnu Abbas kagum akan jawaban perempuan itu. Lalu, ia bertanya lagi, "Jika anak-anakmu datang dalam keadaan lapar, apa yang akan Anda lakukan?" Perempuan itu berkata, "Rupanya Tuan telah membesar-besarkan roti itu sehingga Tuan banyak bicara dan memikirkannya. Hilangkan itu, sebab hal itu dapat merusak jiwa dan menyeret ke arah kehinaan."

Atas hal ini, Ibnu Abbas memerintahkan anggota rombongan untuk mengundang anak-anak perempuan itu. Setelah tiba, Ibnu Abbas berkata, "Aku bermaksud akan memberikan sesuatu yang dapat kalian pergunakan untuk memperbaiki keadaan kalian."

Mereka menjawab, "Hal ini jarang terjadi, kecuali karena diminta atau karena membalas budi." Ibnu Abbas mengatakan, dia tidak bermaksud seperti itu, kecuali sekadar berbagi sebagai sesama tetangga di tempat itu dan pada malam itu.

"Hai Tuan, kami hidup dalam berkecukupan, karena itu berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya. Tetapi, jika Tuan mau memberikannya juga tanpa diminta, kebaikan Tuan itu akan kami terima dan kami syukuri." Ibnu Abbas kemudian memberikan 10 ribu dirham dan 20 ekor unta kepada perempuan itu.

Kisah diatas memberi pelajaran kepada kita bahwa sifat dermawan tidak muncul dari kekayaan materi, tapi dari keimanan dan kekayaan jiwa. Semiskin dan sefakir apa pun keadaan seseorang, bila sifat dermawan melekat dalam dirinya, ia akan memberikan apa pun yang ia punya dan itu bisa meringankan beban orang lain.

Redaktur: Chairul Akhmad

Naskah Sumpah Pemuda Tak Orisinal?


TEMPO.CO, Jakarta - Sejarawan JJ Rizal mengatakan Sumpah Pemuda merupakan bentuk kepalsuan yang dibuat oleh Presiden Sukarno. Tujuannya untuk menangkal upaya-upaya yang memecah belah bangsa. "Sumpah pemuda itu produk tahun 1950-an," kata Rizal dalam diskusi "Sumpah Pemuda, Sumpah Serpah" di Warung Daun, Jakarta, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Menurut Rizal, isi teks pasca-1950 berbeda dengan aslinya. Menurut surat kabar harian Sinpo, bunyi aslinya adalah sebagai berikut:
1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

"Jadi teks yang sekarang itu merupakan produk masa depan, terutama kata-kata ''satu'' yang ada di tiap poin Sumpah Pemuda itu. Ini kepalsuan sejarah," ujar Rizal. Ia juga mengatakan sebenarnya naskah itu bukan sumpah, tetapi deklarasi sebuah kongres pemuda. Agar terlihat sakral, kata Rizal, Sukarno menggantinya menjadi "Sumpah Pemuda".

Sebelum tahun 1950-an, menurut Rizal, tanggal 28 Oktober adalah perayaan untuk mengenang lagu Indonesia Raya ketika pertama kali dikumandangkan. Situasi demokrasi liberal yang memecah belah membuat Sukarno menjadikan tanggal itu sebagai momen memotivasi persatuan bangsa, terutama pemuda.

Apa pun sejarahnya, aktivis buruh dan perempuan Dita Indah Sari mengatakan Sumpah Pemuda merupakan penghargaan sebuah pluralisme bangsa. "Koran yang memuatnya merupakan koran etnis Tionghoa, gedung untuk kongres milik orang Katolik," ucap Dita.

Selain itu, momen sumpah pemuda merupakan upaya menolak sentimen kolonialisme yang bersuku-suku dan berstrata sosial. Generasi muda Indonesia, kata Dita, sudah semestinya bercermin pada peristiwa 28 Oktober 1928 ini. Misalnya, peristiwa penggulingan kekuasaan pada tahun 1998, juga erat kaitannya dengan Sumpah Pemuda.

"Pada tahun 1998 itu semangatnya hampir sama dengan 1928. Untuk merebut kekuasaan dari kaum tua," ujar Dita. Semangat 1998 melepaskan diri dari penjajahan dan memperjuangkan pluralisme pemikiran dan pendapat.

SUNDARI