Senin, 07 Januari 2013

CPNS Honorer K1 Bertambah Menjadi 52 Ribu


JAKARTA - Jumlah CPNS dari honorer kategori satu (K1) kini semakin bertambah dibanding Desember tahun lalu. Saat ini, jumlahnya menjadi 52 ribu orang. Itu berarti ada penambahan 2286 orang dari posisi Desember 49.714.

"Jumlah ini akan terus berubah seiring dengan penyelesaian sisa honorer K1 yang masih diperiksa oleh tim quality assurance Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)," kata Kabag Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN) Tumpak Hutabarat kepada JPNN, Senin (7/1).

Dengan penambahan tersebut, jumlah honorer K1 yang diperiksa tinggal 18.714 orang dari sebelumnya 21 ribu. Saat ini, lanjutnya, tim QA tengah melakukan pemeriksaan di 32 daerah yang bermasalah. Rata-rata yang diperiksa karena ada dugaan penggelembungan jumlah honorer K1. "Nah ini yang diperiksa BPKP apakah benar ada honorernya atau malah dimarkup," terangnya.

Lantas kapan pemeriksaan tersebut selesai? Menurut dia, ditargetkan sampai akhir Januari sehingga diharapkan proses penetapan NIP akan lebih cepat.

Mengenai perkembangan penetapan NIP 52 ribu CPNS, tambah Tumpak, masih sementara berjalan. Sebagian sudah selesai, namun masih banyak juga yang belum. BKN masih memberikan kesempatan hingga pertengahan Januari bagi seluruh instansi untuk pengusulan berkas NIP.

"Sekarang bolanya ada di daerah, makin cepat pengusulan berkasnya, makin cepat juga NIP diterbitkan," tandasnya. (esy/jpnn)

Minggu, 06 Januari 2013

Poligami bukan cacat moral dan politik


Poligami bukan cacat moral dan politik

Rhoma Irama di kediamannya, Pondok Jaya, Mampang, Prapatan, Kamis (3/1). (merdeka.com/imam buhori)
113
 


Tuhan saja tidak mau dimadu, jadi wajar saya banyak perempuan tidak suka kalau cinta mereka diduakan.

Meski begitu, Rhoma Irama yakin isu poligami tidak bakal menggerus dukungan bagi dirinya untuk tetap meaju sebagai calon presiden. Dia juga mencontohkan Rasulullah beristri lebih dari satu mampu menjadi pemimpin paling berhasil sejagat. "Itu sudah cukup menjadi bukti poligami tidak menjadi hambatan bagi pemimpin buat melaksanakan tugas lebih baik," ujarnya saat ditemui merdeka.com kemarin sore di kediamannya, Jalan Pondok Jaya VI nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Berikut penuturannya kepada Faisal Assegaf dan juru foto Imam Buhori:
.
Apakah isu poligami bisa menggerus dukungan terhadap Anda?

Alhamdulillah, majelis taklim saya itu dipenuhi ibu-ibu. Undangan dari ibu-ibu dari seluruh Indonesia banyak sekali. Poligami itu bagaimana orang melakukannya. Ada orang tidak poligami tapi menzalimi perempuan, melecehkan perempuan. Contoh para hidung belang ada orang-orang menzalimi dan tidak menghormati perempuan. Perempuan dibayar, ditinggalkan.

Poligami hakikatnya sangat menghargai harkat dan martabat perempuan. Poligami bukan cacat moral, cacat politik, dan bukan cacat integritas. Tidak bisa dijadikan alasan seseorang tidak bisa menjadi pemimpin. Karena Rasulullah pemimpin paling berhasil di dunia ini. itu sudah cukup menjadi bukti poligami tidak menjadi hambatan bagi pemimpin buat melaksanakan tugas lebih baik.

Apa sudah Anda lakukan sejauh ini buat mewujudkan dorongan dan panggilan hati itu?

Saya mengalir saja. Saya akan mempertahankan suhu ego saya seperti itu. Tidak boleh terbersit dalam dada saya keinginan menjadi presiden. Sehingga datang pada satu titik, secara politik dan konstitusi, baru saya persiapkan diri saya. Yang pasti saya memiliki rasa memiliki dan rasa bertanggung jawab terhadap bangsa ini. Selama 40 tahun saya keliling dan berbicara dengan bangsa ini melalui musik dan dakwah. Ini memunculkan rasa memiliki dan rasa bertanggung jawab terhadap bangsa ini. Saya rasa ini modal besar untuk seorang pemimpin. Dengan dua rasa itu akan muncul konsep, visi, dan misi untuk membahagiakan rakyat.

Apa panggilan setelah 40 tahun itu meniru Rasulullah?

Kalau itu terjadi, bukan by design, kebetulan sama seperti nabi.

Sampai kapan Anda bakal menunggu kendaraan politik itu?

Yang pasti, saya tidak ada beban. Saya sangat-sangat tidak berambisi. Saya tidak sedang mengejar jabatan itu. Saya tidak sedang memimpikan jabatan itu. Buat saya jabatan itu sudah takdir, jadi sikap saya mengalir saja. Saya ini orang yang diinginkan, bukan yang menginginkan.

Tapi Anda rajin bersafari ke ulama, apakah itu bagian dari minta restu?

Kalau safari saya berdakwah memang itu profesi saya. Selama 40 tahun, saya berkeliling Indonesia dengan musik dan dakwah. itu bagian dari profesi, bukan buat sosialisasi. Tidak ada program direncanakan untuk sosialisasi karena saya tidak berambisi.
[fas]

Jumat, 04 Januari 2013

Bayi mulai belajar bahasa sejak dalam kandungan


Bayi mulai belajar bahasa sejak dalam kandungan
 




























Bayi ternyata sudah mulai belajar bahasa sejak mereka masih ada di dalam kandungan ibu, demikian menurut penelitian terbaru dari Pacific Lutheran University di Washington.
Seperti yang dilansir dari Daily Mail (02/01), sebelumnya peneliti percaya kalau bayi yang baru lahir mulai bisa membedakan suara bahasa pada bulan pertama pertumbuhan. Namun studi terbaru mengindikasikan bahwa kapasitas mempelajari suara dari bahasa asal ibu sudah dimulai pada 10 minggu terakhir kehamilan.
"Kami sudah tahu selama lebih dari 30 tahun kalau bayi belajar bahasa dengan cara mendengarkan suara ibu yang bicara. Namun ini penelitian pertama yang membuktikan bahwa pembelajaran bahasa dimulai bahkan sebelum bayi lahir," tutur Christine Moon, kepala peneliti.
Sebanyak 40 bayi dari Amerika dan 40 bayi lain di Swedia dilibatkan dalam penelitian ini. Para bayi yang baru lahir tersebut kemudian dites dengan 17 suara bahasa ibu dan 17 suara bahasa asing.
Peneliti lantas mengukur ketertarikan bayi dengan cara menganalisis berapa lama bayi menghisap dot yang dihubungkan dengan komputer. Ketika bayi menghisap dot, mereka mendengar suara sampai berhenti. Lalu saat menghisap lagi, suara yang dihasilkan berbeda lagi.
Di kedua negara tersebut, ditemukan bahwa bayi cenderung lebih lama menghisap dot ketika suara bahasa asing dihasilkan. Hal ini mengindikasikan bahwa bayi sudah belajar bahasa ibu sejak dalam kandungan.
"Kami pikir bayi mulai belajar setelah dilahirkan, namun ternyata mereka sudah melakukannya jauh sebelum itu. Sekarang kami penasaran bagaimana cara mereka mempelajari bahasa dari dalam kandungan ibu," tandas Patricia Kuhl, kepala penulis penelitian dari Institute for Learning & Brain Sciences di University of Washington.
[riz]

Mendadak kaya sebab jual selaput dara


Mendadak kaya sebab jual selaput dara

Keperawanan bagi sebagian orang masih sangat besar nilainya. Terutama kaum lelaki. Di banyak negara, terutama menganut hukum syariah Islam ketat, keperawanan bagi seorang gadis merupakan nilai wahid.

Mengutip situs berita Bikya Masr, stasiun televisi Al Arabiya (13/6/2012), mengulas soal perempuan Mesir bernama Nisrin, 19 tahun, harus menjalani tes keperawanan sebab dituduh berzina oleh anggota parlemen asal kelompok Salafi Ali Wanis.

Namun lagi-lagi perempuan seperti Nisrin harus menangguk rugi sendirian lantaran pihak lelaki malah bebas berkeliaran sebab posisinya sebagai anggota parlemen kebal hukum.

Meski pandangan barat jauh lebih moderat soal selaput dara, namun tidak bisa dipungkiri itu masih sangat berharga hingga akhirnya mencentus beberapa gadis untuk melelang keperawanan mereka pada penawar tertinggi.

Tercatat tiga gadis asal Brasil menjual harta berharga mereka untuk berbagai tujuan. Ada untuk membayar utang keluarga, membantu orang miskin, dan demi menebus pengobatan sang ibu. Keperawanan mereka berhasil menebus miliaran rupiah. Namun apakah harga itu sebanding dengan nilai selaput dara anugerah Tuhan untuk dipersembahkan pada pasangan hidupnya kelak?

Terlepas soal moral, kondisi mereka yang telah memaksa para gadis itu untuk melepas keperawanan dan mendapatkan uang banyak dengan jalan pintas. Perkara menjadi pahlawan atau bukan, tergantung dari sudut penilaian. Bagi keluarga dan orang-orang yang telah terbantu dari hasil lelang selaput dara itu, mereka menjadi penyelamat.

Keputusan lelang keperawanan menjadi perbincangan seru. Banyak pihak menilai tindakan itu emosional dan tidak jauh beda dengan pelacur. Namun mereka membantah. "Jika Anda melakukan hanya sekali seumur hidup maka itu tidak disebut pelacur. Seperti halnya Anda memotret sekali tidak menjadikan Anda seorang juru foto," ujar Catarina Migliorini salah satu pelaku penjual selaput dara (25/10/2012).

Hal itu diamini pula oleh Alina Percea asal Rumania. Pemenang lelang selaput daranya justru bukan dia yang menawar paling tinggi, melainkan lelaki itu menarik perhatian Alina. "Aku memilihnya sebab aku tertarik padanya," kata dia seperti dilansir surat kabar the Daily Mail (2009).

Alina memang bertujuan mencari jodoh sekaligus membiayai kuliahnya lewat lelang keperawanan itu. Bisa jadi ini membuktikan perempuan masih menyangkutkan rasa pada urusan selangkangan.
[fas]

Honorer K1 Gagal Diminta Ikut Tes

 

Tes CPNS. Foto: Dalil Harahap/dok.JPNN
JAKARTA - Data 21 ribu tenaga honorer hingga saat ini masih dalam tahap pengecekan oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Honorer sebanyak itu berasal dari 32 pemkab/pemko se-Indonesia.

BPKP akan fokus menelisik, apa benar honorer tersebut masuk kualifikasi yang dtetapkan, yakni digaji dibayar dari APBN/APBD. "Itu masih berproses di BPKP. Untuk pengecekan dokumen dilakukan BKN," ujar Deputi Bidang Pengadaan, Kepangkatan, dan Pensiun (Dakatsi) Badan Kepegawaian Negara BKN) Sulardi kepada JPNN, kemarin (3/1).

Dia enggan menyebutkan apakah ada masalah data 21 ribu honorer itu sehingga nama-nama mereka tidak ikut diumumkan. Dia berdalih, tidak mau berspekulasi menyebut ada tidaknya yang bermasalah karena itu ranahnya BPKP. "Biar nanti Kemenpan-RB yang menetapkan. Kalau audit belum selesai tapi sudah ada pernyataan, nanti malah bikin bingung," terang Sulardi.

Dijelaskan, jika sudah selesai dilakukan audit oleh BPKP, maka nantinya honorer K1 yang dinyatakan lolos untuk diangkat jadi CPNS itu datanya akan dikirim ke masing-masing pemda. Jadi, masih ada susulan pengumuman. Untuk gelombang pertama, sejumlah daerah sudah mengumumkan data honorer yang lolos, beberapa waktu lalu.

Sementara, bagi honorer K1 yang dinyatakan tidak lolos kualifikasi, akan disalurkan ke data honorer K2. Untuk bisa diangkat menjadi CPNS, honorer K1 "gagal" ini harus ikut seleksi tertulis sesama honorer, termasuk honorer K2.

"Honorer K1 yang tidak memenuhi syarat, bisa masuk ke K2, diseleksi dengan sesama honorer lainnya," terang Sulardi.

Apakah pengangkatan susulan honorer K1 jadi CPNS itu, sah? Pasalnya amanat PP Nomor  56/2012, memerintahkan pengangkatan tenaga honorer ini akhir 2012?

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN&RB) Tasdik Kinanto pernah menjelaskan hal ini. Dikatakan, seluruh honorer K1 yang dinyatakan lolos, sudah resmi berstatus CPNS pada 1 Desember 2012.

Dengan demikian, jika 251 honorer dari Pemko Medan itu jika nantinya dinyatakan memenuhi persyaratan, maka sudah berstatus sebagai CPNS sejak 1 Desember 2012.

MenPAN&RB Azwar Abubakar juga pernah membeberkan, pihaknya telah menyerahkan formasi pada 415 instansi (29 instansi pusat dan 386 daerah) dengan jumlah kuota 49.714 orang.

"Sisanya sekitar 21 ribu orang masih diperiksa lagi. Yang sudah selesai akan diserahkan lagi instansi pusat dan daerah. Tapi mereka tetap sudah CPNS per 1 Desember juga," ujarnya. (sam/jpnn)

Rabu, 02 Januari 2013

Kebaikan Bulan Shafar


Kebaikan Bulan Shafar

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
Shafar adalah bulan baik dan mulia, sebagaimana sebelas bulan lainnya yang telah ditetapkan Allah SWT dalam hitungan satu tahun.

Kebaikan bulan tersebut menurut Dr Taisir Rajab Al Tamimi terletak pada eksistensi bulan tersebut sebagai bulan Allah yang diperbolahkan bagi manusia untuk melakukan perbuatan apa saja dengan catatan kebaikan dan takwa.

Adapun anggapan yang memandang bulan shafar sebagai bulan kesialan dan tidak menguntungkan yang mengakibatkan sekelompok orang tidak berani melakukan akad nikah dan bepergian di bulan Shafar, merupakan pandangan tanpa dasar kuat yang tidak lain merupakan sisa-sisa kepercayaan kaum Jahiliyah.

Mereka jika hendak bepergian memiliki kebiasaan melemparkan burung ke udara dan mempercayainya bahwa jika burung tersebut terbang ke arah kanan maka mereka jadi bepergian dan jika burung tersebut terbang ke arah kiri, maka mereka menunda rencana bepergian.

Betapa menyulitkan tradisi tersebut, jika hingga kini masih ada yang melestarikannya. Pasalnya, bukan hanya akan mengganggu kegiatan kemanusiaan secara menyeluruh, melainkan juga menunda banyaknya kebajikan yang seharusnya dapat dilakukan.

Apalagi, binatang, alam dan segala yang ada di dunia ini diciptakan dan ditundukkan bagi manusia agar dapat melaksanakan fungsi kepemimpinan dan memakmurkan bumi.

Namun demikian, dewasa ini tindakan serupa masih terjadi, walaupun obyeknya bukan lagi manusia. Penggunaan Paul Si Gurita, Onta, Babi, Sapi, Burung, dan binatang lain untuk memprediksi kemenangan pertandingan sepak bola merupakan kegiatan naif yang menumpulkan akal manusia.

Kebanyakan manusia menyadari bahwa kegiatan tersebut sekedar mencari sensasi karena keakuratannya tidak valid sebab sumberdaya binatang hanya terletak pada instingnya. Bagaimana mungkin akal manusia yang istimewa tunduk pada insting binatang yang alakadarnya?

Dalam rangka mengarahkan kepercayaan yang salah menjadi benar, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada 'adwa (penularan penyakit tanpa seizin Allah), thiyarah (kepercayaan pada burung yang membawa kesialan), hammah (kepercayaan burung hantu yang hinggap di atas rumah sebagai pertanda kematian) dan Shafar (kesialan di bulan shafar)." (HR. Bukhari Muslim).

Maksud dari hadis tersebuat adalah peniadaan segala bentuk kepercayaan pada makhluk baik berupa penyakit, benda (jimat), binatang, bulan tertentu dan semacamnya yang dipandang membawa kesialan atau mara bahaya. Hal tersebut karena, pertama: Allah-lah yang menciptakan, mengatur, menguasai, mengizinkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan takdir-Nya. (QS. Yunus: 31-33). Tanpa izin Allah, tentu semua kepercayaan itu hanya pepesan kosong belaka.

Kedua, Rasulullah SAW mengganti kepercayaan buruk dengan cara berpikir positif bahwa yang bermanfaat bagi manusia terhadap sesamanya dan Allah SWT adalah berpikir baik dan positif dalam bentuk perkataan baik sebab perkataan baik merupakan representasi pikiran yang baik.

Ketiga, berkeyakinan bahwa tidak ada yang dapat membahayakan manusia selama dirinya mengingat terus Allah dan berpegang teguh pada agama-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial, maka sungguh dia telah bersuat syirik."

Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu." Beliau menjawab, "Salah seorang dari kalian mengucapkan, ‘Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu. Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu’." (HR. Ahmad).

Dari petunjuk Rasulullah SAW tersebut tampak jelas bahwa tidak manusia, benda, binatang, hari maupun bulan yang membuat diri kita menjadi sial, kecuali kesialan yang kita ciptakan sendiri dalam bentuk perbuatan buruk, dosa dan melanggar aturan agama. Wallahu a'lam.







Redaktur: Chairul Akhmad

Istri sukses bikin pria tak nyaman


Istri sukses bikin pria tak nyaman
 


Emansipasi wanita telah didengungkan oleh para aktivis wanita sejak puluhan tahun lalu. Di zaman modern ini, kedudukan dan pencapaian wanita pun lebih diakui. Peran wanita tak lagi sekedar 3M: Masak (memasak), Macak (bersolek), dan Manak (melahirkan). Kini wanita juga bisa bersaing dalam dunia kerja bersama para pria.
Meski di tahun 2013 wanita lebih berpendidikan tinggi dan memiliki kemampuan setara, bahkan lebih tinggi di atas pria, sebuah penelitian menunjukkan bahwa sesungguhnya masyarakat masih berpikiran sama kolotnya dengan di tahun 1950-an.
Penelitian yang dilakukan di University of Chicago ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang konsep bahwa pria bekerja di luar sementara wanita berurusan dengan hal-hal rumah tangga, seperti dilansir oleh Huffington Post (28/12).
Ini terbukti dari sikap pria yang cenderung menghindari dan tak tertarik dengan wanita yang lebih sukses dari diri mereka, serta kecenderungan pria yang merasa tak nyaman ketika istri mereka lebih sukses dalam karir dan berpenghasilan lebih banyak.
Ahli ekonomi Marianne Bertrand, Emir Kamenica, da Jessica Pan mengaitkan masalah ini dengan teori identitas sosial dari psikologi sosial hingga penelitian mengenai evolusi peran gender selama beberapa dekade. Hasilnya, mereka menemukan bahwa setiap orang melihat diri mereka sebagai bagian dari masyarakat. Untuk itu, mereka akan mencoba bersikap sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat.
Ketika identitas wanita dikaitkan dengan pekerjaan rumah tangga, maka memiliki karir gemilang di luar rumah akan menimbulkan anggapan tak wajar. Sementara identitas pria dilihat sebagai penyokong keuangan rumah tangga. Ketika melihat istrinya lebih sukses dan berpenghasilan lebih banyak, hal ini akan menyebabkan masalah personal baginya, dan berujung pada masalah dalam rumah tangga.
Berdasarkan penelitian, dibandingkan dengan tahun 1950 dan 1970-an, saat ini lebih banyak wanita yang berpenghasilan tinggi dibandingkan pria. Hal ini memiliki dua dampak, pertama akan ada semakin banyak wanita yang tak menikah karena mereka susah mencari pria yang berpenghasilan lebih tinggi atau lebih sukses dari mereka. Sementara dampak kedua adalah adanya wanita yang memilih bekerja di pekerjaan kecil atau tak bekerja sama sekali untuk menjaga keseimbangan rumah tangga.
Penelitian ini juga menemukan bahwa kebanyakan istri yang berpenghasilan besar masih berusaha berkompensasi dengan pekerjaan rumah tangga. Melalui data dari American Rime Use Survey, wanita yang berpenghasilan lebih tinggi juga berusaha untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.
Hal ini dianggap sebagai kompensasi karena mereka telah 'mengambil' identitas yang terlalu 'pria' dalam masyarakat. Kemungkinan besar, hal ini juga dikarenakan keinginan mereka untuk membuat rumah tangga tetap seimbang.
Meski begitu, bekerja di dua tempat (karir dan rumah tangga) sekaligus tentu bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, penelitian juga menunjukkan bahwa wanita yang sukses dalam karir, berpenghasilan lebih besar daripada suami, dan masih sanggup mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga diketahui lebih tidak bahagia dibandingkan wanita yang fokus pada urusan rumah tangga.
Bagaimana pendapat Anda mengenai penemuan di atas? Apakah Anda setuju bahwa wanita yang lebih sukses membuat pria terintimidasi?
[kun]