Jumat, 07 Desember 2012

Menguak Maraknya Fenomena Kawin Kontrak


detail berita
Ajak pasangan nikah kontrak (Foto: Corbis)

FENOMENA kawin kontrak banyak ditempuh orang untuk memuluskan sebuah kepentingan. Lantas, apakah alasan tersebut membuat pernikahan ini menjadi tren yang banyak digemari orang? 

Istilah kawin kontrak sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Indonesia. Meski demikian, fenomena ini masih menimbulkan pro dan kontra. Kawin kontrak merupakan pernikahan yang dibatasi waktu sehingga akan berakhir sesuai ketentuan yang telah disepakati kedua belah pihak yang melakukan pernikahan itu sendiri. Dalam ajaran Islam, istilah kawin ini dikenal dengan nikah mut’ah yang dalam perkembangannya kini dilarang.

Walau kenyataannya menimbulkan perdebatan, kawin kontrak tetap banyak ditempuh orang. Tak hanya kalangan biasa, tapi juga marak di kalangan selebriti. Baru-baru ini yang diisukan melakukan nikah kontrak adalah pasangan Tamara Bleszynski dan Mike Lewis, di mana keduanya sepakat untuk bercerai. Gugatan yang dilayangkan Tamara baru saja diajukan awal bulan ini.

Di luar negeri, pasangan yang diisukan menempuh nikah jenis ini adalah Kim Kardashian dan Kris Humphries. Pernikahan mereka hanya bertahan dua bulan dan gugatan perceraian dilayangkan dengan alasan tidak cocok satu sama lain. Belakangan sang suami, Kris pun menuntut Kim untuk meminta maaf di depan publik bahwa pernikahan tersebut hanya rekayasa belaka. Dari pernikahan tersebut, berbagai keuntungan keuangan pun didapatkan.

Di Indonesia sendiri, fenomena kawin kontrak juga tak kalah menarik di kalangan masyarakat umum. Di daerah Jawa Barat seperti Cisarua, Bogor, Cianjur, Sukabumi, dan Garut banyak dilakukan kawin kontrak antara warga luar negeri dan wanita pribumi. Selain untuk kepentingan bisnis, materi, atau popularitas, kawin kontrak ditempuh untuk "menghalalkan" kebutuhan biologis.

Karenanya, pernikahan seperti ini memang biasanya dilakukan antara pria berkewarganegaraan asing dan wanita lokal. Hal ini pun diamini Psikolog dan Dosen Muda Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, Fredrick Dermawan Purba MPsi.

“Biasanya yang melakukan kawin kontrak itu pria asing yang sedang berlibur ke sini atau bisnis dalam jangka waktu lumayan lama. Biasanya orang Timur Tengah ya,” paparnya saat dihubungi okezone  melalui telepon genggam, Selasa (03/4/2012).

Seperti yang diketahui kawin kontrak marak ada di daerah kawasan Jawa Barat dan itu pun dilakoni oleh kebanyakan pria berwajah Timur Tengah. Namun, tak hanya daerah itu saja yang terkenal dengan fenomena kawin kontrak, Jepara menjadi salah satu daerah yang dikabarkan melakukan tradisi kawin kontrak dengan pria berparas Eropa.

“Kebutuhan kawin kontrak yang dilakukan mereka dikarenakan untuk kepentingan bisnis. Pria tersebut memiliki bisnis di sini, tapi butuh juga ada yang melayani setiap hari, entah itu secara seksual atau kebutuhan sehari-hari,” tandasnya. (ind) (tty)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar